Kamis, 23 November 2017



MELURUSKAN 6 KESALAHPAHAMAN DANGKAL TENTANG PENGERTIAN OTAKU (JANGAN MALU JADI OTAKU)


Masih banyak aja orang-orang yang sok-sok an mengkritik Otaku Indonesia dengan modal pengetahuan yang terbatas. Tidak ada argumen lebih lanjut. Bisanya cuma komen, lalu ilang, seakan bangga dengan pengetahuan yang se iprit. Penulis sebaliknya ingin bertanya apa saja karyanya, sehingga layak bangga merendahkan orang lain. Kebanyakan argumen mereka, menurut penulis sudah sangat usang dan basi dan sering dilontarkan netizen indo dari jaman batu, seakan ngga ada argumen lain. Berikut 6 kesalahpahaman netizen ini memahami pengertian Otaku.

Sebelum itu kita bahas dulu apa itu otaku ?

- Definisi Otaku

Secara sederhana kita dapat mendefinisikannya arti otaku sebagai seseorang yang betul-betul menekuni hobi. Dan memang awalnya selalu berhubungan dengan cultur Japan. Orang diluar Jepang sendiri baru mengenal istilah ini tahun 1990. Tapi di negara lain tentu juga punya gejala-gejala yang sama, dan lebih akrab menggunakan istilah maniak.

Kesalahpahaman 1: Otaku hanya ada di Jepang

Padahal dalam pengertiannya hobi seperti apapun bentuknya, saat kamu benar-benar menekuni, terobsesi, sanggup menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan berhari-hari untuk suatu hal. Kamu mengalami gejala-gejala otaku bahkan bisa disebut perilaku otaku.

Sebenarnya kita juga bisa menggunakan istilah lain selain otaku. Tapi tidak ada salahnya memakai istilah Otaku. Karena perkembangannya sendiri di Indonesia memakai istilah ini.

Kesalahpahaman 2: Otaku bukan self proclaimed


Memang diakui diawal perkembangannya kata ini memang digunakan sebagai kata ganti orang kedua yaitu anda. Bukan self proclaimed, tetapi gelar yang diberikan oleh orang lain. Bahkan awalnya istilah ini muncul karena percakapan para penggemar anime yang akhirnya jadi kebiasaan.

Anggap saja seperti perbincangan anime di Indo. "Kalau aku lebih senang anime gendre merc, koleksiku semua merc, aku pencinta genre merc". Kalau di Jepang mereka akan memperkenalkan diri secara singkat sebagai "Merc-otaku", begitu mendengar begitu, lawan bicara langsung paham apa yang dimaksudkan. Karena kata fans, penggemar, maniak, hobbies dirangkum dalam penggunaan istilah Otaku di Jepang.

Tapi perkembangan selanjutnya, banyak orang yang mengaku dirinya otaku. Saat kesulitan menjawab apa pekerjaannya. Dalam parodi, reality show, atau candaan sehari-hari mereka mengakui diri mereka otaku, seperti mengakui kenegatifan tapi dengan bangga.

Mirip dengan penggunaan istilah dari jones yang mengakui dirinya jones dan tidak menyanggal seperti komen "nyesek gan, ane jones" "yang malming didepan PC mana suaranya ?"

Istilah itu negatif, tapi bagi beberapa orang ada kebanggaan tersendiri. Anggapnya seperti rapopo aja atau menerima nasib. Bukan bangga oleh kelebihan tapi seakan menerima kekurangan sambil tertawa, orang punya cara berbahagian sendiri.

Kesalahpahaman 3 : Otaku itu sampah


Awal perkembangannya istilah otaku ini bermakna negatif di Jepang. Karena itu berhubungan dengan maniak yang terlalu berlebihan dengan subcultur jepang contohnya anime dan manga, bahkan lilicon dan dojin.

Anak perempuan jepang sering menyebut laki-laki yang punya kebiasaan aneh dan tidak dimengerti masyarakat sebagai otaku. Istilah ini digunakan untuk menyinggung perasaan, kritik dan diskriminasi.
Meskipun begitu !!! game yang kalian mainkan, manga yang kalian baca, anime yang kalian tonton, musik yang kalian dengar, semua itu adalah karya profesional otaku.

Kesalahpahaman 4: Otaku Itu jones


Istilah ini memang awalnya lekat dengan pria lajang yang mempunyai hobi anime, manga, idol, game, komputer tanpa mengenal batasan umur.

Manga Akibahara@Deep menjelaskan dengan rinci bagaimana kehidupan otaku. Bahkan quote yang berkesan bagi penulis adalah "mungkin hanya otaku satu-satunya didunia ini yang benar-benar menikmati hidup.

Masalah pasangan, cinta, dan kasih sayang. Itu sudah ditakdirkan. Dan memang kenyataannya berhubungan dengan ketampanan atau kecantikan. Tidak sedikit otaku yang tamvan didunia ini, salah satunya admin.

Kesalahpahaman 5 : Otaku adalah penggemar anime, manga, game, action, culture, pokoknya semua hal yang berbau Jejepangan.


Sebenarnya pengertian otaku itu hanya dalam arti yang sempit,  padahal ada pengertian otaku dalam arti yang lebih luas.

- Otaku dalam arti sempit

Biasanya ditujukan kepada orang-orang yang punya hobi sejenis dan membentuk kalangan terbatas. Dan ini dekat dengan dunia dojin, anime, manga dan sub-sub yang berhubungan dengannya seperti action fugure dan cosplay. Dan tentu semuanya itu sub culture Jepang.

Ada istilah lain sesuai bidang yang digeluti otaku misalnya, game-otaku (bidang game), gunji-otaku (militer), pasokon-otaku (komputer), tetsudo otaku (kereta api), jani-otaku (penyanyi), dsb.

- Otaku dalam arti luas

Otaku dalam arti luas tidak hanya menyangkut Jepang, anime atau manga. Artinya siapapun orang itu, entah warga jepang atau diluar Kepang, jika dia serius menekuni hobinya, bisa disebut sebagai otaku. Misalnya pejabat (bidang pemerintahan) pedagang (ekonomi), Seniman (bidang seni), Teknisi (Bidang IT), Anonimous (Bidang Hacking) dll. Tapi definisi otaku dalam arti luas ini sangat jarang-jarang sekali digunakan.

Tapi jangan salah, anime dan manga yang beredar menyentuh berbagai segi kehidupan di Jepang. Misalnya manga The Blackswindler, menceritakan bidang ekonomi dan bisnis dengan tema penipuan. Godhand Teru, bidang kedokteran, dsb.

Kesalahpahaman 6 : Otaku tidak ada dampak positifnya, harusnya malu


- Negatif : fanatik dengan hobinya, anti-sosial, Kaku, maniak.

Walaupun disebutkan seperti diatas, bukan berarti otaku memiliki semua dampak yang tertulis diatas. Jadi hanya salah satunya, misalkan, maniak, belum tentu anti-sosial, atau sebaliknya.

- Positif : Mendalami secara mendetail, tingkat pengetahuan tinggi dan sudah bisa disebut pakar, pro dibidangnya.

Meskipun begitu bukan berarti semua otaku harus pro. Setiap orang punya kadar kecerdasan yang berbeda. Tidak seharusnya setiap orang meremehkan skill masing. Kemampuan otak setiap orang itu unik dan aneh.

Sejarah Otaku

Di Jepang

Generasi 1 (1960)

- Otaku pada masa ini kebanyakan remaja yang menyukai fiksi sains, misalnya perubahan dari manusia menjadi robot, monster yang bisa berubah bentuk.
- Pada masa ini anime masih dianggap untuk anak-anak.


Generasi 2 (kelahiran 1970)

- Mulai diterima dimasyarakat.
- Otaku dianggap sebagai pengkhayal tapi masih dianggap wajar.

Generasi 2b (Kelahiran 1980)
- Karena suatu kasus pembunuhan heboh dengan pelaku seorang otaku, masyarakat Jepang menaruh praduga terhadap otaku.
- Otaku mulai mendapat perlakuan diskriminasi.


Generasi 3 (Kelahiran 1980)

- Karena generasi 1 sudah mulai tua tapi tetap menjadi otaku walau punya status sosial penting dimasyarakat. Citra negatif otaku mulai berkurang dan dianggap sebagai salah satu hobi. Entahlah mungkin karena orang tua gen1 menganggap wajarlah mereka begitu, kita dulu juga sama.
- Karena tidak ada diskriminasi terbuka lagi, tapi konotasi negatif selanjutnya hanya sebagai bahasa sehari-hari, itupun dalam keadaan tertentu, seperti saat perempuan kesal karena pacarnya lebih mementingkan game daripada dirinya. Atau saat orang tua kesal anaknya terus bermain game, dsb.
- Orang tua membiarkan anaknya membaca manga dan komik, bahkan mendukung mereka menjadi mangaka, animator, seiyuu, dll.
- Otaku mulai berkembang walau makin tenggelam dalam hobinya dalam level yang ekstrim.


Gen 4 Jepang, Gen 1 Indo (generasi 90-an)

- Jepang mulai terbuka untuk mendistribusikan anime dan manga kenegara-negara lain, termasuk Indo.
- TV Indo menerima dan menayangkan anime-anime ini pada hari minggu pagi.
- Produk-produk anime seperti Tamiya, Beyblade, yoyo, C. Gear, dll yang beredar di Indo kebanyakan buatan Cina.
- Ost/sountrack anime yang diputar di TV Indo berbahasa Indonesia hasil terjemahan.
- Orang Indonesia kurang atau bahkan belum terlalu mengenal istilah otaku, tapi gejala-gejalanya mulai terlihat Seperti anak-anak, remaja dan pemuda yang aktif dalam balapan tamiya di kota-kota besar, pertandingan battle Card Yu Gi Oh dsb.


Gen 5 Jepang, gen 2 Indo (generasi Milenium 2000.

- Anime dan manga menjadi pasar bisnis yang besar dan jaringan yang semakin luas.
- Terkait alasan bisnis itu, entah dalam bentuk apa, penulis kurang tau.
- Orang Indonesia perlahan-lahan mengenal tertarik dengan Jepang karena Anime dan manga.
- Bahasa jepang mulai dianggap gaul dan keren.
- Karena keterbatasan pengetahuan, beberapa mengira otaku itu keren, dan memakainya.
- Terbukti di rental komik, toko buku, istilah ini mulai dipakai.
- Internet mulai berkembang dan akses ke anime dan game mulai mudah.


Sumber : Wiki, A@D, BNN, MNC.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Bertarung Dengan Babi Hutan Cerita Bertarung Dengan Babi Hutan ini merupakan kisah nyata yang terjadi pada tahun 1950 di seb...